POPULISME POLITIK IDENTITAS & DINAMIKA ELEKTORAL

Oleh: M. Noer Fietriansyah

Judul               : Populisme Politik Identitas & Dinamika Elektoral

Penulis            : Burhanudin Muhtadi, Ph.D

Penerbit          : Intrans Publishing

Tahun Terbit   : 2019

Halaman         : xxiv + 304 halaman

Realitas politik senantiasa menjadi topik pembahasan yang menarik untuk dikuliti. Perbincangan tentangnya tak hanya terbatas dalam forum-forum akademis formal saja, ataupun sekedar menjadi isu yang diperdebatkan oleh pengamat-pengamat ahli di berbagai media. Ia kini telah merambah luas menjadi santapan publik, kapanpun dan dimanapun. Tak heran, isu yang satu ini kerapkali memadati ruang diskursus dengan jangkauan ke segala aspek kehidupan. Di Indonesia, dalam beberapa hal, ini merupakan petanda baik. Bahwa mayoritas masyarakatnya telah menunjukkan suatu kemajuan pesat, terbukti dengan tingkat kesadaran dan melek politiknya yang cukup tinggi.

Dalam dunia politik, dinamika demi dinamika senantiasa hadir. Bagaimana tidak, didalamnya bersinggungan langsung berbagai relasi antar makhluk/aktor dengan masing-masingnya memiliki tujuan berjangka, baik pendek dan panjang. Dari sini, politik dapat diartikan sebagai sarana untuk mendapatkan tujuan-tujuan itu. Realitas politik pun semakin menarik, sebab didalamnya pula terdapat relasi kuasa, perebutan sumber daya strategis, perseteruan berbagai aktor, dan lain sebagainya, yang kesemuanya masing-masing membawa misi dan kepentingannya.

Karena menariknya berbagai dinamika tersebut, alhasil lahirlah buku ini. Sebagai upaya merekam berbagai geliat perpolitikan tanah air, terkhusus dalam rentang kisaran waktu 2014 hingga sebelum buku ini diterbitkan pada Maret 2018 lalu. Buku ini merupakan ikhtiar Burhanudin Muhtadi sebagai Penulis, dalam rangka menjahit berbagai peristiwa politik penting tanah air yang sarat makna. Baginya, peristiwa-peristiwa penting tersebut teramat perlu ditulis dan didokumentasikan agar tak hanya usai dalam mimbar-mimbar diskusi dengan durasi waktu yang amat terbatas.

Ada banyak hal yang diulas buku ini. Pada bagian-bagian awal, Burhanudin Muhtadi membahas kecenderungan perpolitikan tanah air yang menggunakan pola-pola populis sepaket dengan politik identitasnya, sebagai bahan bakar utama meraup dukungan massa dalam perhelatan elektoral. Populisme sebagai gerakan politik sendiri mulai dikenal sejak 1930-an, utamanya di Amerika Latin. Sederhananya, ia dapat diartikan sebagai suatu bentuk retorika politik segelintir aktor tertentu yang mengatasnamakan rakyat, dengan beranggapan bahwa kelompok elite dominan yang berkuasa sebagai pemerintahan korup dan telah gagal mengejawantahkan amanat rakyat.

Hingga kini, masih terbuka ruang perdebatan yang luas diantara para ahli untuk mendefinisikan makna populisme. Ada yang menganggapnya sebagai petanda baik dalam demokrasi. Sebab ia dapat menjadi pengingat yang ampuh bagi elite politik untuk lebih memberikan ruang bagi keterlibatan publik dan menempatkan sebesar-besar kepentingannya dalam proses pembuatan kebijakan. Pun sebaliknya, ada pula yang melihat populisme sebagai penyakit yang suatu waktu dapat membawa kehidupan berdemokrasi dalam kondisi kronis. Seringkali klaim-klaim kaum populis hanya digunakan untuk menaikkan elektabilitas personal di mata pemilih, agar dapat memenangkan sebanyak-banyaknya suara dalam kontestasi elektoral nantinya.

Selain hal-hal diatas, Burhanudin Muhtadi juga banyak mengulas dinamika politik tanah air beberapa tahun belakangan, khususnya peristiwa-peristiwa politik lima tahun terakhir. Diantaranya ia juga membahas terkait koalisi transaksional dan kutukan sistem presidensial; rekonsolidasi politik Jokowi; dinamika elektoral jelang pemilu serentak 2019; ideologi partai, oportunisme elite dan perilaku pemilih; hingga partai dan episentrum korupsi di Indonesia.

Buku ini teramat cocok bagi akademisi-akademisi ilmu sosial dan politik yang membutuhkan sudut pandang segar terkait dinamika perpolitikan kontekstual tanah air. Sepaket dengan itu, ia juga baik bagi pengamat politik guna menambah khazanah pandang dalam membedah realitas yang sarat intrik dan tarik menarik kepentingan didalamnya. Buku ini juga cocok kiranya dikonsumsi mahasiswa luas, tak terbatas pada kalangan ilmu sosial dan ilmu politik saja. Selain itu, ia juga cocok dikonsumsi aktivis-aktivis yang bergelut dalam dunia gerakan guna memperluas peta dan strategi taktik menghadapi geliat dan dinamika perpolitikan tanah air.

Sebagai penutup, ada suatu statement menarik Burhanudin Muhtadi yang sekiranya penting untuk disimak. Ia menegaskan: “…sudah saatnya para elite politik yang bertarung membangun konsensus nasional untuk mengurangi semaksimal mungkin penggunaan politik identitas dalam kampanye politik. Politik identitas bukan hanya akan mengurangi kesempatan pemilih untuk mendapatkan sajian kampanye yang bermutu dan kredibel, tapi juga membahayakan tenun kebangsaan kita yang dijahit dengan benang-benang keberagaman dan kemajemukan.”

Melawan Investasi Tambang Berbasis Kultural

Oleh: Aprilia Tri Wahyu N.

Judul buku      : Gerakan Sosial dan Kebudayaan

Penulis            : Ahmad Atang

Penerbit           : Intrans Publishing

Tahun Terbit   : 2018

Tebal Buku     : xxii + 248 halaman

Kabupaten Lembata adalah sebuah daerah yang terletak di Nusa Tenggara Timur dengan kekayaan sumber daya alam berupa potensi tambang. Potensi tambang tersebut, diantaranya panas bumi, emas, perak, timah hitam, dan tembaga. Buku ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan Atang didaerah tempat kelahirannya dalam melihat persoalan investasi tambang. Dalam buku ini, ia menunjukkan adanya ketimpangan antara negara, pasar, dan masyarakat sipil hingga memicu aksi-aksi kolektif. Negara dengan kewenangannya memberikan izin kepada investor tambang untuk melakukan investasi tanpa negosiasi dengan masyarakat. Hal inilah yang membuat terjadinya ketimpangan relasi antar negara dan pasar. Hingga menyebabkan munculnya gerakan perlawanan yang dilakukan masyarakat sipil seperti kalangan LSM, masyarakat adat, tokoh agama dan petani dengan mengusung perlawanan berdasarkan budaya setempat.

Hubungan masyarakat Lembata dan adat terlihat melalui kepatuhan mereka dengan alam. Wujud kepatuhan mereka­ ditunjukkan melalui praktik ritual adat seperti ritual menjelang hujan dan seremoni bersih kampung. Kepercayaan yang kuat itu menjadi landasan mereka dalam melakukan gerakan sosial.

“…..nilai agama dalam pandangan masyarakat Lembata adalah menyerah diri kepada kekuatan gaib yang memberikan garansi kehidupan yaitu, Tuhan dan alam. Dengan demikian, Gerakan sosial di Kabupaten Lembata dalam tataran masyarakat adat lebih disebabkan karena adanya pandangan nilai agama tersebut.” Hal 104.

Berdasarkan pandangan masyarakat Lembata mengenai alam, tanah dipandang bukan hanya persoalan ekonomi melainkan juga hal yang berkaitan dengan nilai religius. Bagi mereka, tanah diibaratkan seperti ibu yang melahirkan dan memberi roh kehidupan. Oleh karena itu, tindakan yang berkaitan dengan mengeksploitasi tanah harus dilawan untuk menjaga dan mempertahankan alam.

Nilai budaya lokal yang didalamnya memuat ritual, mitos, dan keyakinan mistis masyarakat Lembata mengenai alam dimunculkan dalam perlawanan terhadap tambang. Selain itu, nilai budaya lokal tersebut juga dimunculkan untuk melihat dan mengutuk siapa saja yang ingin mengambil emas. Dalam bukunya, Abe Sulang salah seorang informan penulis memberikan pandangan mengenai nilai budaya lokal dalam melihat tambang sebagai auq niwang (jangkarnya tanah).

“Jika emas diambil sama dengan melepas jangkar dari ikatannya membuat kampung tidak aman, masyarakat jadi tidak stabil seperti sampan dilaut yang hanyut terbawa arus dan gelombang akibat jangkarnya dilepas atau terlepas, sehingga tidak ada pegangan lagi. Begitu juga kehidupan kampung dan kesatuan masyarakat akan mengalami kegoncangan oleh berbagai cobaan dan malapetaka.” Halaman 129

Atang dalam bukunya dengan mudah membuat pembaca mencerna setiap konflik dan permasalahan yang terjadi dalam tambang di Lembata. Pembaca juga akan dibawa untuk melihat permasalahan tambang tersebut berdasarkan aspek sosial, ekonomi dan politik.

Menariknya, Atang mampu membedah pandangan pembaca bahwa gerakan sosial yang dilakukan masyarakat Lembata bukan bermaksud untuk menciptakan perubahan melainkan, untuk mempertahankan nilai-nilai budaya. Hal tersebut terlihat bahwa gerakan lebih bersifat kultural-sosiologis karena terhubung dengan budaya lokal mengenai permasalahan tambang. Sehingga, buku ini cocok bagi mahasiswa yang menempuh studi sosiologi, Antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Atang dalam bukunya mampu menjelaskan gambaran umum hingga permasalahan yang terjadi mengenai tambang di Lembata. Disisi lain, ia juga menunjukkan cara-cara penyelesain yang dilakukan masyarakat tersebut. Pembaca akan memahami perjuangan dari pergerakan yang dilakukan masyarakat melawan negara dan investor.

Mari Membaca dan Jatuh Cinta


Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta.” –Najwa Shihab

Pengalaman mencari, menemukan, atau memilih buku harus memberikan kesan yang asik bagi para pembaca. Saat ini, Intrans Publishing akan mengajak anda untuk berpetualang dan menemukan cinta tersebut. Rilisan terbaru ini selain memenuhi kebutuhan studi serta membuat publik semakin mencintai aktivitas membaca, juga akan mengantar pembaca pada pengetahuan terbaru.

Siapa yang harus membaca buku-buku Intrans?

Pertama, mahasiswa/mahasiswi yang merasa buntu dalam mengerjakan tugas kuliah baik itu dalam format makalah, skripsi, maupun tugas akhir; tidak perlu lagi memenuhi timeline media sosial dengan keluh-kesah atau kegalauan. Beberapa buku Intrans bisa memperkaya teori, memperkuat metodologi, dan mempertajam analisis teman-teman. Apalagi hanya sekedar menyelesaikan tugas kuliah. Komunikasi Politik, Home Visit Pekerjaan Sosial, dan Impelentasi Pekerjaan Sosial adalah beberapa judul buku pegangan mahasiswa yang tidak sekedar kaya secara teori namun juga aplikatif.

Kedua, publik yang lapar akan pengetahuan terkini. We all know, publik atau khalayak umum tetap menjadi subjek yang harus dipenuhi rasa laparnya atas pengetahuan terkini. Terbukanya akses terhadap informasi yang luas membuat publik menjadikan membaca sebagai aktivitas penting di samping rutinitas pekerjaan. Beberapa judul buku memang tepat diluncurkan saat ini sebagai medium belajar publik untuk melihat fenomena dan isu yang terjadi saat ini secara utuh dan kritis; salah tiganya, Media Sosial Agama Baru Masyarakat Milenial, Politik Indonesia Kini, dan Populisme Politik Identitas dan Dinamika Elektoral. Ketiga terbitan terbaru Intrans tersebut tepat untuk mereka yang ingin meng-update pengetahuan seputar fenomena post truth, hoaks, populisme, ujaran kebencian, dan politik identitas yang berseliweran di media sosial.

Lalu, jika menurut Nana (Najwa Shihab) hanya dibutuhkan satu buku untuk kita mulai jatuh cinta pada membaca, buku apa kira-kira yang akan menambatkan hati kita pada aktivitas membaca? Berikut adalah daftar buku terbitan lini-lini Intrans Publishing yang telah rilis Januari hingga Maret 2019.

Daftar buku Intrans Publishing rilis Januari-Maret 2019

Intrans Publishing

Media Sosial Agama Baru Masyarakat Milenial (klik)
Penulis Nurudin

Populisme Politik Identitas & Dinamika Elektoral (klik)
Penulis Burhanuddin Muhtadi, Ph.D.

Reforma Agraria Land Reform dan Redistribusi Tanah Di Indonesia (klik)
Penulis Diyan Isnaeni, S.H., M.H. & Dr. H. Suratman, S.H., M.Hum.

Komunikasi Politik Pemahaman Secara Teoritis dan Empiris (klik)
Penulis Efriza & Jerry Indrawan

Manajemen Sumber Daya Manusia Strategi Pengelolaaan SDM Berkualitas dan Berdaya Saing (klik)
Penulis Fatahullah Jurdi

Politik Indonesia Kini Potret Budaya Politik Hingga Dinamika Pilkada (Klik)
Editor Abdul Aziz SR

Desentralisasi dan Otonomi Daerah Di Negara Kesatuan Republik Indonesia (klik)
Penulis Drs. Abdul Kholiq Azhari, M.Si. & Abdul Haris Suryo Negoro, S.I.P., M.Si.

Impelementasi Teori, Teknik, dan Prinsip Pekerjaan Sosial (klik)
Penulis Sugeng Pujileksono & Mira Wuryanti

Home Visit Pekerjaan Sosial (klik)
Penulis Dr. Sugeng Pujileksono, M.Si.

Setara Press

Hukum Keuangan Negara & Daerah (klik)
Penulis Josef Mario Monteiro, S.H., M.H.

Metode Penetapan Hukum Islam (klik) Membangun Madzhab Fiqih Kontemporer di Indonesia.
Penulis Prof. Dr. Kasuwi Saiban, M.Ag.

Tanggung Jawab Pengelolaan BUMD (klik) Kajian Empirik Mengenai Tugas, Wewenang, dan Tanggung Jawab Mengelola BUMD
Penulis Dr. Yudho Taruno Muryanto, S.H., M.Hum

Penyelesaian Sengketa Pajak (klik) Konsep dan Konstruksi Pengaturan Mediasi di Indonesia
Penulis Dr. Khoirul Hidayah, S.H., M.H.

Hak Kekayaan Intelektual dan Investasi (klik) Kajian HKI dalam Dunia Investasi Termasuk Pada UMKM
Penulis Dr. Endang Purwaningsih, S.H., M.Hum., Dr. Muslikh, S.E., M.E., Nurul Fajri Chikmawati, S.H., M.H.

Grasi Sebagai Beschikking (klik)
Penulis Fajurrahman Jurdi, Ahmad Yani

Madani

Integritas Terbuka (klik) Keterampilan Berdialog Antar Umat Beragama
Penulis Gerardette Philips, Mochamad Ziaulhaq

Pendidikan Pancasila (Klik) Sebagai Paradigma Pembangunan
Penulis Ahmad Busrotun Nufus, Novitasari, Sukron Mazid

Pendidikan Antikorupsi (klik) Kajian Multiperspektif dan Strategi Pemberantasan Korupsi dalam Berbagai Pendekatan
Penulis Dr. A. Malthuf Siroj, M.Ag., Ismail Marzuki, S.HI., M.H.

Beranda

Hari Tanpa Jeda (klik)
Penulis Ali Abdillah, S.H., LL.M.

Empat Dua

Maqasid Ekonomi Syariah (klik) Tujuan dan Aplikasi
Penulis Dr. Moh. Mufid, Lc., M.H.I.

Intimedia

Teknologi Pengasapan Ikan Tradisional (klik)
Penulis Dr. Ir. Fronthea Swastawati, M.Sc

Bio Proses Limbah Pertanian (klik)
Penulis Dr. Ir. Yohanes Setiyo, M.P., Ir. Ida Bagus Wayan Gunam, M.P., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Bambang Andi Harsojuwono.

Penyakit Dentomaksilofasial (klik)
Penulis Dr. Banun Kusumawardani, drg., M.Kes., Dwi Merry Christmarini Robin, drg., M.Kes.

Penalaran Kiasan vis a vis Penalaran Modern

Oleh: M. Noer Fietriansyah

Sejak masa pencerahan, umat manusia telah menjalani babak sejarah baru yang merupakan titik-balik peradabannya. Sejak itu, narasi modern vis a vis tradisional menjadi terma yang acapkali dibenturkan. Istilah “modern” dilekatkan pada hal-hal rasional, empiris dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Kebalikannya, term “tradisional” melekat pada rupa yang metafisis, irasional dan belum terbukti keilmiahannya. Masyarakat tradisional cenderung di stigmakan sebagai masyarakat berpikiran magis-primitif dan merupakan simbolisasi kemunduran. Sedangkan masyarakat modern, adalah manifestasi dari kemajuan peradaban. Sudah barang tentu, ia menempati posisi superior dari masyarakat sebelumnya.

Dikotomi tradisional-modern ini lantas mempengaruhi cara manusia mengklaim apa yang dianggap sebagai kebenaran. Bagi ilmu pengetahuan modern, sesuatu diterima sebagai ihwal kebenaran apabila ia dapat dibuktikan dan diterima keabsahannya secara empiris-rasional. Dalil seperti ini tentunya telah mengurat-akar dalam berbagai dimensi baik sosial, budaya, ekonomi hingga politik.

Menariknya, Geger Riyanto justru memiliki postulat berbeda. Sepanjang penelitiannya menyangkut diskursus kebudayaan Indonesia, alih-alih sesuatu dianggap sebagai kebenaran karena ia telah dibuktikan. Kerapkali yang dianggap benar, justru tidak lebih dari prasangka dan sarat fiksi ketimbang pembuktian konkret, yang diyakini sebagai wujud kebenaran. Untuk itulah, melalui buku ini ia ingin menyelidiki silang-sengkarut bagaimana kekuatan fiksi itu dapat bekerja secara lebih efektif menjadi kebenaran, dan memainkan kekuatannya dalam menggerakkan dan memprovokasi aktor-aktor kehidupan sosial. Menemani proses penyelidikannya, ia menggunakan metode antropologi penalaran dengan menempatkan diskursus kebudayaan Indonesia sebagai subjek kajian.

Dengan mengangkat tema diskursus kebudayaan, buku ini menawarkan gagasan yang sangat menarik. Di dalamnya, Penulis mendedah kembali apa yang seringkali dianggap kalangan akademisi sebagai “penalaran primitif”. Umumnya, konsepsi ini dilekatkan pada masyarakat tradisional yang percaya akan barang magis dan takhayul. Stigma yang kemudian berkembang, masyarakat primitif tak memiliki kapasitas untuk merefleksikan kembali apa yang terjadi dalam kehidupannya. Dalam konteks yang sama, Penulis hendak menaikkan kembali khazanah “penalaran kiasan” yang jarang tersentuh penelitian-penelitian akademis– khususnya antropologi—selama beberapa dekade belakangan. Ia berusaha menelaah logika sosial yang bekerja dibalik penalaran kiasan tersebut, yang selama ini dianggap tak ilmiah, irasional dan menjauhkan individu dari potensi menggapai kebenaran.

Dalam buku ini juga, Penulis dengan gamblang memaparkan berbagai corak penggunaan konsep kebudayaan di Indonesia, hingga akhirnya ia dapat dipahami dalam ruang sosial dimana konsepsi itu hadir. Tak pelak, konsepsi kebudayaan juga kerapkali dipakai dan berdiri beriringan dengan jargon-jargon pembangunan. Penelusuran mendalam akar dan perkembangan diskursus kebudayaan Indonesia juga hadir mewarnai karya ini. Di dalamnya Penulis berusaha mengidentifikasi akar-akar historis yang menjadi periode penting, dimana pengertian tentang kebudayaan mengalami distorsi akibat berbagai kondisi baik intelektual, sosial, ekonomi hingga politik.

Buku ini menyasar akademisi kampus yang menggandrungi isu seputar kebudayaan, dinamika di dalamnya, serta perdebatan-perdebatan akademis yang mengitari alur historis perkembangannya tersebut. Tentunya, sasaran itu kiranya sepaket dengan budayawan-budayawan tanah air yang getol betul dengan khazanah antropologi kontemporer. Selain itu, buku ini juga tepat dikonsumsi mahasiswa antropologi yang membutuhkan kesegaran konsep dan teori-teori kebudayaan. Tidak menutup kemungkinan, karangan ini juga menyasar khalayak umum yang menyukai isu-isu kebudayaan yang mewarnai riuhnya diskursus kebudayan Indonesia.

Sebagai penutup, sebuah statement menarik diungkapkan Geger dalam pengantarnya. Secara tegas, ia mengatakan:

“…Penalaran kiasan, yang selama ini dianggap lebih rendah dibandingkan penalaran modern, saintifik, empiris, justru merupakan suatu kerja pengetahuan yang menggerakkan dan menggiatkan kehidupan sosial. Apa yang menggerakkan diskursus kebudayaan Indonesia bukanlah kemasuk-akalannya ataupun kememadaiannya secara logis dan empiris, melainkan kekuatannya menggerakkan, memprovokasi, menstimulasi, pusparagam aktor kehidupan.”

Melihat Dinamika Multikultural Indonesia Dalam Ruang Sastra

Oleh: Aprilia Tri Wahyu N.

Buku ini berusaha membedah dan menelisik permasalahan ke-Indonesian yang berfokus pada konstruksi identitas dan praktik diskursif negara ternarasikan dalam sebuah karya sastra. Taufiq memberikan ulasan-ulasan dan penjelasan melalui kajian teks sastra berupa novel yang memuat wacana multikultural dari tahun 1920-an hingga 2000-an. Diantara novel-novel Multikultural Indonesia seperti, Burung-burung Rantau karya Mangunwijaya, Student Hijo karya Kartodikromo, Salah Asuhan karya Moeis, Laskar Pelangi karya Hirata, Bumi Manusia karya Pram, Maut dan Cinta karya Lubis, Merantau ke Deli karya Hamka, Dimsum Terakhir karya Clara Ng, dan Putri Cina karya Sidhunata, Tanah Air Beta karya S. Khairil.

Novel-novel itu dipilih Taufiq karena berkaitan dengan permasalahan yang terjadi di Indonesia pada era tersebut. Selain itu, dia juga berusaha membedah persoalan identitas etnik dan agama yang tergambarkan pada masyarakat Indonesia. Sebagian besar isi bukunya mengungkapkan fenomena multikultural dalam konteks etnik dan agama dikarenakan msyarakat Indonesia sendiri lebih terbuka dengan adanya istilah atau orang-orang yang berkulit/ras lain yang berbeda. Namun, hal itu akan jelas berbeda jika menyangkut persoalan etnik dan agama yang membuka identitas seseorang karena negara memiliki aturan yang tegas pada kaum minoritas.

Kata Multikultural sendiri tidak bisa dilepaskan dari Indonesia. Ia sangat erat kaitannya dengan identitas masyarakat karena berkaitan dalam merefleksikan posisi manusia dan kapasitasnya sebagai subjek individual dan atau kelompok kultural ditengah arus kebudayaan yang terus bergerak. Lantas, bagaimana melihat multikultural sebagai sebuah identitas Indonesia? Sebelum sampai pada pemahaman itu, buku ini membawa pembaca bahwasanya penting untuk melihat wacana-wacana yang digulirkan oleh identitas. Pada hakikatnya, identitas membangun komitmennya pada nilai dan disaat yang bersamaan menetapkan batas-batas sosial, politik, dan budaya. Oleh karenanya, identitas dalam buku ini harus dilihat secara horisontal dan vertikal dengan memihak keduanya.

“Secara horisontal, wacana identitas penting untuk ditempatkan sebagai sisi yang egaliter, terbuka, dan membuka peluang untuk tumbuhnya sikap saling menghargai. Secara vertikal, diharapkan adanya perspektif yang memadai dalam memahami persoalan identitas itu dalam kapasitas dan relasinya dengan negara.” (hal.67)

Multikultur juga kaitannya dengan aturan negara, bahwa semacam itu diatur oleh negara hingga disahkan melalui undang-undang. Lalu, bab yang menarik dalam melihat keterkaitan diantanya mengenai negara, etnisitas, dan keindonesian sebagai kritik wacana kesatuan,

“Konteks wacana keindonesian dalam hal ini, baik dalam kapasitasnya sebagai bangsa, maupun dalam kapasitasnya sebagai institusi yang menegara. Etnisitas dalam konteks itu memberikan nalar logis bagi konstruksi keterhubungan dengan keindonesian baik dalam kapasitasnya sebagai negara, maupun sebagai institusi yang menegara tadi. Etnisitas tidak diposisikan sebagai bagian lain, atau dialienasikan dalam konteks wacana bangsa dan negara tadi. Ia menjadi bagian integral bagi kekuatan keindonesian dan menopang seutuhnya eksistensi bangsa dan institusi yang menegara tersebut.” (hal. 136)

Penulis mampu menyuguhkannya secara apik, menggabungkan dan membedahnya melalui konstruksi identitas yang dibangun negara. Buku ini juga tersistematika dengan baik karena pada setiap babnya disusun secara terstruktur yang membuat pembaca mudah mengikuti alur berpikir dari penulis. Sehingga, buku ini cocok dan memang ditujukan bagi mahasiswa terutama mereka yang menggeluti sastra dan ilmu sosial lainnya karena berkaitan dengan sastra serta fenomena multikultural dalam konteks etnik dan agama.

Akhmad Taufiq yang saat ini menjadi pengajar Program Studi (Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia) PBSI di Universitas Jember juga merangkai bukunya dengan telaah-telaah yang sangat kritis. Bahkan diakhir tulisannya, ia merekomendasikan praktik diskursif negara idealnya harus didorong agar mampu menciptakan kebijakan (regulasi) yang mengedepankan prinsip-prinsip dasar nilai multikultural, seperti nilai toleransi, moderasi, inklusivitas, solidaritas, dan kesetaraan dalam praktik pembangunan bangsa.

BIG DISCOUNT DAN GRATIS ONGKIR SELURUH INDONESIA

KABAR GEMBIRA!
BIG DISCOUNT dan GRATIS ongkos kirim!

Intrans Publishing Group memberikan diskon 50% bagi SEMUA DOSEN di seluruh Indonesia untuk pembelian buku terbitan Intrans Publishing.
Biaya kirim juga akan ditanggung 100% (free ongkir) TANPA MINIMUM ORDER.

Buku-buku dapat diunduh disini.

Pemesanan bisa menghubungi nomor 081331011042 (WhatsApps), dengan format:

#Nama:

#Asal Kampus:

#Alamat Lengkap:

#Daftar buku yang dipesan:

1.

2.

3.

(Melampirkan bukti transfer)

 

*Pembayaran dengan melakukan transfer ke salah satu akun bank di bawah ini:

  • Bank: BCA
  • Bank: MANDIRI
  • Bank: BRI

Tentang Pendidikan yang Memiskinkan

Judul             : Pendidikan yang Memiskinkan

Penulis          : Darmaningtyas

Penerbit        : Intrans Publishing

Tahun Terbit : 2015

Tebal             : 312 Halaman

Resentor      : Muhammad Aleys


[message_box title=” color=”yellow”]”Negara dalam hal ini bertanggung jawab dalam menjamin terlaksananya pendidikan yang mencerdaskan dan juga berkeadilan secara sosial maupun ekonomi. Secara otomatis, pendidikan haruslah dibangun untuk memudahkan akses terhadap pendidikan tersebut. Oleh karenanya, pemerintah melalui kebijakannya turut mempengaruhi jalannya pendidikan nasional.”[/message_box]

Pendidikan merupakan usaha guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut tertuang dalam amanat UUD negara kita Indonesia. Makna dari pendidikan itu ialah guna meningkatkan taraf hidup atau kemajuan yang lebih baik melalui suatu usaha sadar dan sistematis oleh masing-masing individu. Individu-individu tersebut tidaklah hanya pelajar, akan tetapi juga guru hingga pemangku kebijakan dan seluruh masyarakat negara ini. Diibaratkan sebagai sebuah bangunan, semuanya akan memiliki arti penting guna menopang tujuan yang satu yakni mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sedikit mengenai penulis yakni Darmaningtyas atau lebih akrab disapa Pak Tyas, mulai menggeluti dunia pendidikan sejak menjadi mahasiswa baru di UGM, Agustus 1982 dengan menjadi guru di SMP Binamuda dan SMA Muhammadiyah Panggang, Gunung Kidul, DIY. Di SMP Binamuda tersebut, Pak Tyas melakukan eksperimen di bidang pendidikan yang salah satunya ialah melaksanakan manajemen berbasis sekolah (MBS). Melalui sumbangan pemikirannya, sehingga sekolah yang akan bubar dan kekurangan jumlah murid tersebut masih bisa eksis hingga saat ini dengan fasilitas yang serba lengkap. Selain itu, pemikiran penulis terkait pendidikan sangat penting untuk kita pahami.

Melalui buku ini penulis hendak mengajak kita untuk dengan judul mulai melek dan kritis dalam mengawal perkembangan pendidikan nasional karena pendidikan merupakan suatu hal penting guna menentukan kemajuan sebuah bangsa. Ironisnya kemudian, pendidikan tersebut berdampak kepada kemiskinan yang tidak hanya kemiskinan ekonomis, melainkan memiskinkan jiwa seseorang, memiskinkan sikap apresiasi terhadap kehidupan manusia, memiskinkan rasa seni, budaya dan memiskinkan pikiran masyarakat. Buku ini juga bisa dikatakan sebagai sejarah pendidikan di masa orde baru sehingga memahaminya pun harus disesuaikan dengan konteks politik pada masa rezim tersebut masih berkuasa.

Buku ini menjelaskan mengenai dampak pendidikan bagi kehidupan ekonomi masyarakat contohnya dapat dilihat ketika sekolah-sekolah mewajibkan seluruh siswa untuk mengikuti program study tour sebagai salah satu syarat mengikuti ujian. Study Tour memiliki nilai positif guna mengenalkan siswa kepada bangsanya melalui tempat-tempat bersejarah seperti museum dan lain sebagainya. Sekalipun demikian, efektifitas program tersebut akan lebih bijak apabila digunakan untuk menambah atau memperbaiki fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium dan lain sebagainya terlebih lagi bagi masyarakat yang keadaan ekonominya tidak mendukung untuk membayar iuran program tersebut. Tanpa menghilangkan sisi positifnya, nilai negatif yang dihasilkan ialah budaya konsumtif dan hedonistik akan semakin tumbuh karena siswa hanya akan menganggap bahwa program tersebut sekedar untuk berjalan-jalan semata.

Pendidikan nasional disadari atau tidak juga telah memiskinkan jiwa manusianya untuk mengapresiasi seni. Padahal, seni memiliki arti penting guna mengasah rasa sensitivitas kemanusiaan sehingga terhindar dari tindakan-tindakan picik, sempit dan kerdil. Tapi sayangnya kurikulum yang ada (terutama kurikulum 1994) telah mematikan rasa seni tersebut dengan alokasi waktu pelajarannya yang sangat minim dibandingkan dengan pelajaran IPA dan matematika. Selain seni, kreativitas siswa semakin berkurang dengan minimnya pelajaran kerajinan tangan yang sebetulnya berguna untuk mendidik manusia-manusia kreatif dan berdikari.

Pendidikan pun tidak dapat dilepaskan dari situasi politik yang menyertainya. Apabila dilihat lebih kritis lagi, rezim orde baru telah memiskinkan masyarakat melalui pendidikan terutama guru. Rendahnya gaji yang diterima tidaklah sebanding dengan kebutuhan hidupnya. Banyak guru yang kehidupan ekonominya pas-pas an akan mencari sumber pencaharian lain seperti bertani, bertambak, berdagang dan lain sebagainya. Ketimpangan antara gaji dan kebutuhan pokok inilah yang membuat posisi guru di era orde baru semakin terpuruk dan menyurutkan semangat kerja mereka, belum lagi permasalahan ketika guru tersebut tidak berlatar belakang golkar harus siap-siap mendapat surat mutasi dari pemerintah.

Melalui berbagai persoalan pendidikan tersebut, penulis juga tidak lupa untuk menyertakan saran guna memperbaikinya. Selain itu, penulis juga menyisipkan sub bab yang bernama “Refleksi” di tiap akhir bab yang dibahas guna memberikan perbandingan dengan pendidikan saat ini. Sebagian dari pembaca mungkin akan merasa sedikit asing dengan penamaan-penamaan institusi pendidikan era orde baru karena sudah jauh berbeda dengan pendidikan saat ini. Penulis juga mengemas buku ini dari sudut pandang dan setting yang tentu berbeda dengan buku Paulo Freire yang berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas”. Akan tetapi bagaimana seharusnya kebijakan pendidikan nasional dijalankan serta penjelasan logis bahwa pendidikan turut menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Selamat Membaca !

Tiga Waktu Emas untuk Membaca

Banyak yang beranggapan seorang maniak buku harus menyisihkan waktunya setiap hari secara khusus yang tidak bisa diganggu gugat dengan kegiatan lain. Kalau benar begitu, betapa tersiksanya seseorang yang ingin menambah ilmunya dengan mengonsumsi bacaan-bacaan yang memutar otak. Bukankah seorang pembaca buku sama halnya dengan manusia biasa yang berhak menyisihkan waktunya untuk bersenang-senang dan menikmati hidup. Lalu bagaimana caranya, untuk menambah wawasan intelektual tanpa harus menanggalkan kesempatan untuk berbahagia bersama teman dan kekasih. Zaman sekarang, seorang kutu buku tidak lagi identik dengan seorang penyendiri yang sibuk dengan dunianya sendiri.

Membaca buku bisa sambil bernafas, bisa sambil memperhatian keadaan sekitar, bisa sambil menepati janji nongkrong dengan kawan-kawan.  Yang menjadi soal adalah buku seperti apa yang harus dibaca ketika sedang apa. Dan bagaimana caranya untuk konsisten menyelesaikan suatu buku dengan santai tanpa kehilangan makna yang terkandung dalam buku yang kita baca.

Sederhana saja, bagi waktu kita untuk membaca menjadi tiga waktu:

  1. Membaca di Pagi Hari

Kala pagi hari, biasanya keadaan fisik kita masih setengah pulih. Setelah melahap sarapan, sisakan sepotong roti (buah atau gorengan) dan secangkir kopi yang tidak terlalu asam (susu atau teh lebih baik). Cemilan ini merupakan teman yang paling akrab untuk kita melahap bacaan santai. Bisa koran, jurnal, berita harian, atau buku saku yang berisikan tulisan segar yang tidak terlalu panjang. Bagi penikmat sastra, membaca cerpen tentu menjadi pilihan yang paling tepat di waktu ini. Setelah roti habis dan kopi sudah sampai ampasnya, tidak hanya tubuh namun otak kita pun akan kembali pulih dan siap beraktivitas.

 

  1. Membaca Saat Menuju Senja

Bagian waktu yang kedua untuk membaca buku adalah ketika hari sampai pada siang menuju sore. Ada waktu kosong selepas kita melakukan rutinitas sehari-hari, baik kerja, kuliah maupun sekolah. Biasanya di saat seperti ini, tubuh kita sedang agak kelelahan setelah menyelesaikan berbagai tugas yang mau tak mau kita kerjakan sebagai kewajiban. Meskipun tubuh sedang agak lelah, namun mata kita masih tajam dan otak kita masih segar untuk berpikir.  Maka carilah secangkir jahe atau jamu untuk mengembalikan stamina, kalau anda seorang pecinta kopi, konsumsilah kopi yang agak asam atau kopi Arabika untuk memberi efek rileks dan mengembalikan mood agar kita dapat kembali produktif. Jangan lupa kacang atau keripik sebagai teman yang paling klop menunggu senja. Lalu buku apa yang paling tepat dibaca pada waktu ini?

Setelah merebahkan diri selama 30 menit, ambillah buku filsafat, pemikiran atau buku-buku teori. Memang agak berat untuk dimengerti, namun matahari tak terasa akan tenggelam dengan sendirinya seiring otak kita yang tengah melayang pada alam pikiran. Di sela-sela waktu membaca ini, biasanya tangan kita dengan sendirinya akan reflek mencatat dan menulis ide-ide yang begitu saja terpancar dari kepala. Hari yang produktif bukan?

 

  1. Membaca di Malam Hari

Tidak selesai sampai situ, ketika tiba malam, ini menjadi bagian ketiga dari waktu kita untuk membaca. Setelah lelah seharian beraktivitas, tubuh kita sudah hendak merebah dan otak kita sedang membutuhkan refleksi. Buku yang paling tepat untuk dibaca pada waktu ini adalah sebuah novel, puisi, atau biografi. Buku seperti ini dapat kita lahap dengan seksama sambil bertukar pikiran dengan kawan.  Tak terasa kantuk akan tiba ketika kita telah menyelesaikan petuangan menyelami yang diciptakan oleh buku-buku yang membuat perasaan kita semakin berwarna.

Itulah keseharian seorang pembaca buku, menyenangkan bukan? Melahap buku sambil menikmati hidup dan bersenang-senang. Selamat Membaca!

11 Buku tentang Korupsi yang Wajib Kamu Miliki

Korupsi menjadi wabah penyakit yang menjalar di Indonesia. Sudah terlalu banyak orang dari berbagai kalangan yang mengemukakan pandangannya, baik dari kalangan akademisi, praktisi, bahkan seniman sekalipun. Namun sampai hari ini, korupsi masih saja menjadi masalah yang seolah tak kunjung selesai. Para pemangku jabatan masih dengan mudahnya tergiur memanfaatkan jabatannya untuk melakukan kecurangan demi memperkaya diri sendiri. Ada banyak sekali buku yang telah membahas korupsi dari berbagai sisi. Berikut ini adalah 11 buku pilihan kami: Continue Reading 11 Buku tentang Korupsi yang Wajib Kamu Miliki