Penalaran Kiasan vis a vis Penalaran Modern

Oleh: M. Noer Fietriansyah

Sejak masa pencerahan, umat manusia telah menjalani babak sejarah baru yang merupakan titik-balik peradabannya. Sejak itu, narasi modern vis a vis tradisional menjadi terma yang acapkali dibenturkan. Istilah “modern” dilekatkan pada hal-hal rasional, empiris dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Kebalikannya, term “tradisional” melekat pada rupa yang metafisis, irasional dan belum terbukti keilmiahannya. Masyarakat tradisional cenderung di stigmakan sebagai masyarakat berpikiran magis-primitif dan merupakan simbolisasi kemunduran. Sedangkan masyarakat modern, adalah manifestasi dari kemajuan peradaban. Sudah barang tentu, ia menempati posisi superior dari masyarakat sebelumnya.

Dikotomi tradisional-modern ini lantas mempengaruhi cara manusia mengklaim apa yang dianggap sebagai kebenaran. Bagi ilmu pengetahuan modern, sesuatu diterima sebagai ihwal kebenaran apabila ia dapat dibuktikan dan diterima keabsahannya secara empiris-rasional. Dalil seperti ini tentunya telah mengurat-akar dalam berbagai dimensi baik sosial, budaya, ekonomi hingga politik.

Menariknya, Geger Riyanto justru memiliki postulat berbeda. Sepanjang penelitiannya menyangkut diskursus kebudayaan Indonesia, alih-alih sesuatu dianggap sebagai kebenaran karena ia telah dibuktikan. Kerapkali yang dianggap benar, justru tidak lebih dari prasangka dan sarat fiksi ketimbang pembuktian konkret, yang diyakini sebagai wujud kebenaran. Untuk itulah, melalui buku ini ia ingin menyelidiki silang-sengkarut bagaimana kekuatan fiksi itu dapat bekerja secara lebih efektif menjadi kebenaran, dan memainkan kekuatannya dalam menggerakkan dan memprovokasi aktor-aktor kehidupan sosial. Menemani proses penyelidikannya, ia menggunakan metode antropologi penalaran dengan menempatkan diskursus kebudayaan Indonesia sebagai subjek kajian.

Dengan mengangkat tema diskursus kebudayaan, buku ini menawarkan gagasan yang sangat menarik. Di dalamnya, Penulis mendedah kembali apa yang seringkali dianggap kalangan akademisi sebagai “penalaran primitif”. Umumnya, konsepsi ini dilekatkan pada masyarakat tradisional yang percaya akan barang magis dan takhayul. Stigma yang kemudian berkembang, masyarakat primitif tak memiliki kapasitas untuk merefleksikan kembali apa yang terjadi dalam kehidupannya. Dalam konteks yang sama, Penulis hendak menaikkan kembali khazanah “penalaran kiasan” yang jarang tersentuh penelitian-penelitian akademis– khususnya antropologi—selama beberapa dekade belakangan. Ia berusaha menelaah logika sosial yang bekerja dibalik penalaran kiasan tersebut, yang selama ini dianggap tak ilmiah, irasional dan menjauhkan individu dari potensi menggapai kebenaran.

Dalam buku ini juga, Penulis dengan gamblang memaparkan berbagai corak penggunaan konsep kebudayaan di Indonesia, hingga akhirnya ia dapat dipahami dalam ruang sosial dimana konsepsi itu hadir. Tak pelak, konsepsi kebudayaan juga kerapkali dipakai dan berdiri beriringan dengan jargon-jargon pembangunan. Penelusuran mendalam akar dan perkembangan diskursus kebudayaan Indonesia juga hadir mewarnai karya ini. Di dalamnya Penulis berusaha mengidentifikasi akar-akar historis yang menjadi periode penting, dimana pengertian tentang kebudayaan mengalami distorsi akibat berbagai kondisi baik intelektual, sosial, ekonomi hingga politik.

Buku ini menyasar akademisi kampus yang menggandrungi isu seputar kebudayaan, dinamika di dalamnya, serta perdebatan-perdebatan akademis yang mengitari alur historis perkembangannya tersebut. Tentunya, sasaran itu kiranya sepaket dengan budayawan-budayawan tanah air yang getol betul dengan khazanah antropologi kontemporer. Selain itu, buku ini juga tepat dikonsumsi mahasiswa antropologi yang membutuhkan kesegaran konsep dan teori-teori kebudayaan. Tidak menutup kemungkinan, karangan ini juga menyasar khalayak umum yang menyukai isu-isu kebudayaan yang mewarnai riuhnya diskursus kebudayan Indonesia.

Sebagai penutup, sebuah statement menarik diungkapkan Geger dalam pengantarnya. Secara tegas, ia mengatakan:

“…Penalaran kiasan, yang selama ini dianggap lebih rendah dibandingkan penalaran modern, saintifik, empiris, justru merupakan suatu kerja pengetahuan yang menggerakkan dan menggiatkan kehidupan sosial. Apa yang menggerakkan diskursus kebudayaan Indonesia bukanlah kemasuk-akalannya ataupun kememadaiannya secara logis dan empiris, melainkan kekuatannya menggerakkan, memprovokasi, menstimulasi, pusparagam aktor kehidupan.”

Read More

Leave a Reply

*

%d blogger menyukai ini: