Tiga Waktu Emas untuk Membaca

Banyak yang beranggapan seorang maniak buku harus menyisihkan waktunya setiap hari secara khusus yang tidak bisa diganggu gugat dengan kegiatan lain. Kalau benar begitu, betapa tersiksanya seseorang yang ingin menambah ilmunya dengan mengonsumsi bacaan-bacaan yang memutar otak. Bukankah seorang pembaca buku sama halnya dengan manusia biasa yang berhak menyisihkan waktunya untuk bersenang-senang dan menikmati hidup. Lalu bagaimana caranya, untuk menambah wawasan intelektual tanpa harus menanggalkan kesempatan untuk berbahagia bersama teman dan kekasih. Zaman sekarang, seorang kutu buku tidak lagi identik dengan seorang penyendiri yang sibuk dengan dunianya sendiri.

Membaca buku bisa sambil bernafas, bisa sambil memperhatian keadaan sekitar, bisa sambil menepati janji nongkrong dengan kawan-kawan.  Yang menjadi soal adalah buku seperti apa yang harus dibaca ketika sedang apa. Dan bagaimana caranya untuk konsisten menyelesaikan suatu buku dengan santai tanpa kehilangan makna yang terkandung dalam buku yang kita baca.

Sederhana saja, bagi waktu kita untuk membaca menjadi tiga waktu:

  1. Membaca di Pagi Hari

Kala pagi hari, biasanya keadaan fisik kita masih setengah pulih. Setelah melahap sarapan, sisakan sepotong roti (buah atau gorengan) dan secangkir kopi yang tidak terlalu asam (susu atau teh lebih baik). Cemilan ini merupakan teman yang paling akrab untuk kita melahap bacaan santai. Bisa koran, jurnal, berita harian, atau buku saku yang berisikan tulisan segar yang tidak terlalu panjang. Bagi penikmat sastra, membaca cerpen tentu menjadi pilihan yang paling tepat di waktu ini. Setelah roti habis dan kopi sudah sampai ampasnya, tidak hanya tubuh namun otak kita pun akan kembali pulih dan siap beraktivitas.

 

  1. Membaca Saat Menuju Senja

Bagian waktu yang kedua untuk membaca buku adalah ketika hari sampai pada siang menuju sore. Ada waktu kosong selepas kita melakukan rutinitas sehari-hari, baik kerja, kuliah maupun sekolah. Biasanya di saat seperti ini, tubuh kita sedang agak kelelahan setelah menyelesaikan berbagai tugas yang mau tak mau kita kerjakan sebagai kewajiban. Meskipun tubuh sedang agak lelah, namun mata kita masih tajam dan otak kita masih segar untuk berpikir.  Maka carilah secangkir jahe atau jamu untuk mengembalikan stamina, kalau anda seorang pecinta kopi, konsumsilah kopi yang agak asam atau kopi Arabika untuk memberi efek rileks dan mengembalikan mood agar kita dapat kembali produktif. Jangan lupa kacang atau keripik sebagai teman yang paling klop menunggu senja. Lalu buku apa yang paling tepat dibaca pada waktu ini?

Setelah merebahkan diri selama 30 menit, ambillah buku filsafat, pemikiran atau buku-buku teori. Memang agak berat untuk dimengerti, namun matahari tak terasa akan tenggelam dengan sendirinya seiring otak kita yang tengah melayang pada alam pikiran. Di sela-sela waktu membaca ini, biasanya tangan kita dengan sendirinya akan reflek mencatat dan menulis ide-ide yang begitu saja terpancar dari kepala. Hari yang produktif bukan?

 

  1. Membaca di Malam Hari

Tidak selesai sampai situ, ketika tiba malam, ini menjadi bagian ketiga dari waktu kita untuk membaca. Setelah lelah seharian beraktivitas, tubuh kita sudah hendak merebah dan otak kita sedang membutuhkan refleksi. Buku yang paling tepat untuk dibaca pada waktu ini adalah sebuah novel, puisi, atau biografi. Buku seperti ini dapat kita lahap dengan seksama sambil bertukar pikiran dengan kawan.  Tak terasa kantuk akan tiba ketika kita telah menyelesaikan petuangan menyelami yang diciptakan oleh buku-buku yang membuat perasaan kita semakin berwarna.

Itulah keseharian seorang pembaca buku, menyenangkan bukan? Melahap buku sambil menikmati hidup dan bersenang-senang. Selamat Membaca!

Read More

Leave a Reply

*

%d blogger menyukai ini: