Melawan Investasi Tambang Berbasis Kultural

Oleh: Aprilia Tri Wahyu N.

Judul buku      : Gerakan Sosial dan Kebudayaan

Penulis            : Ahmad Atang

Penerbit           : Intrans Publishing

Tahun Terbit   : 2018

Tebal Buku     : xxii + 248 halaman

Kabupaten Lembata adalah sebuah daerah yang terletak di Nusa Tenggara Timur dengan kekayaan sumber daya alam berupa potensi tambang. Potensi tambang tersebut, diantaranya panas bumi, emas, perak, timah hitam, dan tembaga. Buku ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan Atang didaerah tempat kelahirannya dalam melihat persoalan investasi tambang. Dalam buku ini, ia menunjukkan adanya ketimpangan antara negara, pasar, dan masyarakat sipil hingga memicu aksi-aksi kolektif. Negara dengan kewenangannya memberikan izin kepada investor tambang untuk melakukan investasi tanpa negosiasi dengan masyarakat. Hal inilah yang membuat terjadinya ketimpangan relasi antar negara dan pasar. Hingga menyebabkan munculnya gerakan perlawanan yang dilakukan masyarakat sipil seperti kalangan LSM, masyarakat adat, tokoh agama dan petani dengan mengusung perlawanan berdasarkan budaya setempat.

Hubungan masyarakat Lembata dan adat terlihat melalui kepatuhan mereka dengan alam. Wujud kepatuhan mereka­ ditunjukkan melalui praktik ritual adat seperti ritual menjelang hujan dan seremoni bersih kampung. Kepercayaan yang kuat itu menjadi landasan mereka dalam melakukan gerakan sosial.

“…..nilai agama dalam pandangan masyarakat Lembata adalah menyerah diri kepada kekuatan gaib yang memberikan garansi kehidupan yaitu, Tuhan dan alam. Dengan demikian, Gerakan sosial di Kabupaten Lembata dalam tataran masyarakat adat lebih disebabkan karena adanya pandangan nilai agama tersebut.” Hal 104.

Berdasarkan pandangan masyarakat Lembata mengenai alam, tanah dipandang bukan hanya persoalan ekonomi melainkan juga hal yang berkaitan dengan nilai religius. Bagi mereka, tanah diibaratkan seperti ibu yang melahirkan dan memberi roh kehidupan. Oleh karena itu, tindakan yang berkaitan dengan mengeksploitasi tanah harus dilawan untuk menjaga dan mempertahankan alam.

Nilai budaya lokal yang didalamnya memuat ritual, mitos, dan keyakinan mistis masyarakat Lembata mengenai alam dimunculkan dalam perlawanan terhadap tambang. Selain itu, nilai budaya lokal tersebut juga dimunculkan untuk melihat dan mengutuk siapa saja yang ingin mengambil emas. Dalam bukunya, Abe Sulang salah seorang informan penulis memberikan pandangan mengenai nilai budaya lokal dalam melihat tambang sebagai auq niwang (jangkarnya tanah).

“Jika emas diambil sama dengan melepas jangkar dari ikatannya membuat kampung tidak aman, masyarakat jadi tidak stabil seperti sampan dilaut yang hanyut terbawa arus dan gelombang akibat jangkarnya dilepas atau terlepas, sehingga tidak ada pegangan lagi. Begitu juga kehidupan kampung dan kesatuan masyarakat akan mengalami kegoncangan oleh berbagai cobaan dan malapetaka.” Halaman 129

Atang dalam bukunya dengan mudah membuat pembaca mencerna setiap konflik dan permasalahan yang terjadi dalam tambang di Lembata. Pembaca juga akan dibawa untuk melihat permasalahan tambang tersebut berdasarkan aspek sosial, ekonomi dan politik.

Menariknya, Atang mampu membedah pandangan pembaca bahwa gerakan sosial yang dilakukan masyarakat Lembata bukan bermaksud untuk menciptakan perubahan melainkan, untuk mempertahankan nilai-nilai budaya. Hal tersebut terlihat bahwa gerakan lebih bersifat kultural-sosiologis karena terhubung dengan budaya lokal mengenai permasalahan tambang. Sehingga, buku ini cocok bagi mahasiswa yang menempuh studi sosiologi, Antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Atang dalam bukunya mampu menjelaskan gambaran umum hingga permasalahan yang terjadi mengenai tambang di Lembata. Disisi lain, ia juga menunjukkan cara-cara penyelesain yang dilakukan masyarakat tersebut. Pembaca akan memahami perjuangan dari pergerakan yang dilakukan masyarakat melawan negara dan investor.