Tentang Pendidikan yang Memiskinkan

Judul             : Pendidikan yang Memiskinkan

Penulis          : Darmaningtyas

Penerbit        : Intrans Publishing

Tahun Terbit : 2015

Tebal             : 312 Halaman

Resentor      : Muhammad Aleys


“Negara dalam hal ini bertanggung jawab dalam menjamin terlaksananya pendidikan yang mencerdaskan dan juga berkeadilan secara sosial maupun ekonomi. Secara otomatis, pendidikan haruslah dibangun untuk memudahkan akses terhadap pendidikan tersebut. Oleh karenanya, pemerintah melalui kebijakannya turut mempengaruhi jalannya pendidikan nasional.”

Pendidikan merupakan usaha guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut tertuang dalam amanat UUD negara kita Indonesia. Makna dari pendidikan itu ialah guna meningkatkan taraf hidup atau kemajuan yang lebih baik melalui suatu usaha sadar dan sistematis oleh masing-masing individu. Individu-individu tersebut tidaklah hanya pelajar, akan tetapi juga guru hingga pemangku kebijakan dan seluruh masyarakat negara ini. Diibaratkan sebagai sebuah bangunan, semuanya akan memiliki arti penting guna menopang tujuan yang satu yakni mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sedikit mengenai penulis yakni Darmaningtyas atau lebih akrab disapa Pak Tyas, mulai menggeluti dunia pendidikan sejak menjadi mahasiswa baru di UGM, Agustus 1982 dengan menjadi guru di SMP Binamuda dan SMA Muhammadiyah Panggang, Gunung Kidul, DIY. Di SMP Binamuda tersebut, Pak Tyas melakukan eksperimen di bidang pendidikan yang salah satunya ialah melaksanakan manajemen berbasis sekolah (MBS). Melalui sumbangan pemikirannya, sehingga sekolah yang akan bubar dan kekurangan jumlah murid tersebut masih bisa eksis hingga saat ini dengan fasilitas yang serba lengkap. Selain itu, pemikiran penulis terkait pendidikan sangat penting untuk kita pahami.

Melalui buku ini penulis hendak mengajak kita untuk dengan judul mulai melek dan kritis dalam mengawal perkembangan pendidikan nasional karena pendidikan merupakan suatu hal penting guna menentukan kemajuan sebuah bangsa. Ironisnya kemudian, pendidikan tersebut berdampak kepada kemiskinan yang tidak hanya kemiskinan ekonomis, melainkan memiskinkan jiwa seseorang, memiskinkan sikap apresiasi terhadap kehidupan manusia, memiskinkan rasa seni, budaya dan memiskinkan pikiran masyarakat. Buku ini juga bisa dikatakan sebagai sejarah pendidikan di masa orde baru sehingga memahaminya pun harus disesuaikan dengan konteks politik pada masa rezim tersebut masih berkuasa.

Buku ini menjelaskan mengenai dampak pendidikan bagi kehidupan ekonomi masyarakat contohnya dapat dilihat ketika sekolah-sekolah mewajibkan seluruh siswa untuk mengikuti program study tour sebagai salah satu syarat mengikuti ujian. Study Tour memiliki nilai positif guna mengenalkan siswa kepada bangsanya melalui tempat-tempat bersejarah seperti museum dan lain sebagainya. Sekalipun demikian, efektifitas program tersebut akan lebih bijak apabila digunakan untuk menambah atau memperbaiki fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium dan lain sebagainya terlebih lagi bagi masyarakat yang keadaan ekonominya tidak mendukung untuk membayar iuran program tersebut. Tanpa menghilangkan sisi positifnya, nilai negatif yang dihasilkan ialah budaya konsumtif dan hedonistik akan semakin tumbuh karena siswa hanya akan menganggap bahwa program tersebut sekedar untuk berjalan-jalan semata.

Pendidikan nasional disadari atau tidak juga telah memiskinkan jiwa manusianya untuk mengapresiasi seni. Padahal, seni memiliki arti penting guna mengasah rasa sensitivitas kemanusiaan sehingga terhindar dari tindakan-tindakan picik, sempit dan kerdil. Tapi sayangnya kurikulum yang ada (terutama kurikulum 1994) telah mematikan rasa seni tersebut dengan alokasi waktu pelajarannya yang sangat minim dibandingkan dengan pelajaran IPA dan matematika. Selain seni, kreativitas siswa semakin berkurang dengan minimnya pelajaran kerajinan tangan yang sebetulnya berguna untuk mendidik manusia-manusia kreatif dan berdikari.

Pendidikan pun tidak dapat dilepaskan dari situasi politik yang menyertainya. Apabila dilihat lebih kritis lagi, rezim orde baru telah memiskinkan masyarakat melalui pendidikan terutama guru. Rendahnya gaji yang diterima tidaklah sebanding dengan kebutuhan hidupnya. Banyak guru yang kehidupan ekonominya pas-pas an akan mencari sumber pencaharian lain seperti bertani, bertambak, berdagang dan lain sebagainya. Ketimpangan antara gaji dan kebutuhan pokok inilah yang membuat posisi guru di era orde baru semakin terpuruk dan menyurutkan semangat kerja mereka, belum lagi permasalahan ketika guru tersebut tidak berlatar belakang golkar harus siap-siap mendapat surat mutasi dari pemerintah.

Melalui berbagai persoalan pendidikan tersebut, penulis juga tidak lupa untuk menyertakan saran guna memperbaikinya. Selain itu, penulis juga menyisipkan sub bab yang bernama “Refleksi” di tiap akhir bab yang dibahas guna memberikan perbandingan dengan pendidikan saat ini. Sebagian dari pembaca mungkin akan merasa sedikit asing dengan penamaan-penamaan institusi pendidikan era orde baru karena sudah jauh berbeda dengan pendidikan saat ini. Penulis juga mengemas buku ini dari sudut pandang dan setting yang tentu berbeda dengan buku Paulo Freire yang berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas”. Akan tetapi bagaimana seharusnya kebijakan pendidikan nasional dijalankan serta penjelasan logis bahwa pendidikan turut menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Selamat Membaca !

Read More

Leave a Reply

*

%d blogger menyukai ini: