Menulis Tidak Memakan Waktu

Tulisan ini diperuntukkan utamanya bagi para penulis pemula yang kesulitan membagi waktu antara menulis dengan aktivitas kesehariannya yang lain. Yang pertama kali ingin saya tegaskan adalah menulis tidak mengganggu aktivitas kalian. Menulis tidak harus membuatmu menunda pekerjaan yang lain. Terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang mayoritas waktunya termakan dengan rutinitas sekolah dan kuliah. Menulis tidak harus menjadi pekerjaan utama. Kita bisa menyisihkan waktu senggang di sela-sela kesibukan kita untuk menulis dan menghasilkan karya yang berkualitas secara produktif.

Bagaimana caranya?

Langkah pertama, bagi waktumu dalam satu hari menjadi tiga bagian. Dari 24 jam yang ada, bagi menjadi 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk bersantai dan 8 jam untuk istirahat. Pembagian ini bisa menjadi hal yang relatif tergantung kebutuhan, bisa saja berubah menjadi 12-8-4 atau bisa juga 12-6-6 sesuai kebutuhan.

Langkah kedua, pastikan selalu catat jadwal dan agenda sehari-harimu lengkap dengan jumlah waktu yang tersita. Semisal, kuliah memakan waktu dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Artinya jam untuk bekerja sudah terpakai selama 5 jam, dan tersisa 3 jam. 3 jam inilah yang bisa kalian manfaatkan untuk menulis. Bisa saja pada jam 1 siang sampai jam 4 sore. Dan sisanya tinggal dipergunakan untuk bersantai dan beristirahat.

Langkah ketiga, jadikanlah waktu yang kalian luangkan untuk menulis sebagai waktu hening. Waktu hening adalah waktu di mana kalian menciptakan suasana yang paling nyaman untuk menulis. Kalau yang terbiasa menulis dalam keadaan sepi, usahakan cari tempat semacam warung kopi atau perpustakaan yang tidak banyak pengunjung. Waktu untuk menulis tidak perlu lama namun yang terpenting adalah keefektifan waktu tersebut.

Langkah keempat, catatlah apapun yang menurut kalian menarik untuk dikembangkan menjadi tulisan. Seringkali menulis mendapatkan inspirasi dari hal yang tidak terduga. Bisa saja ketika mengalami masalah di ruang kuliah, atau ketika mengalami mimpi buruk saat sedang tidur. Catatlah dalam buku kecil yang bisa dimasukkan dalam saku. Bawalah buku itu kemanapun kamu pergi sebagai nyawamu untuk menulis.

Langkah terakhir nikmatilah proses menulismu. Tentu tulisan yang dihasilkan tidak selalu seperti yang kita harapkan. Kuncinya adalah sabar dan tekun untuk terus melatih. Jangan pernah menyerah untuk menghasilkan karya berupa tulisan apa saja. Jangan sungkan untuk membagi tulisanmu dengan teman-teman dan guru yang dianggap lebih berpengalaman untuk dimintai kritik dan saran. Ingatlah, semua penulis hebat terlahir sebagai yang bukan siapa-siapa.

Read More

Leave a Reply

*

%d blogger menyukai ini: